Minggu, 19 Desember 2010

Konflik Boznia Herzwgovina


  1. PERANG DAN KONFLIK
Secara implisit dalam pengertian perjuangan Nasional atau memperjuangkan kepentingan Nasional, tidak dapat dilepaskan dengan kemungkinan-kemungkinan adanya pertentangan kepentingan dengan bangsa lain, bahkan pula pertentangan kepentingan antar kelompok dalam tubuh bangsa sendiri. Dari sini timbullah situasi konflik. Perang adalah pelaksanaan atau bentuk konflik dengan intensitas kekerasan yang tinggi. Dewasa ini (pada masa damai), sering terjadi konflik di dalam suatu Negara yang dipandang akan berdampak langsung maupun tidak langsung bagi stabilitas suatu Negara. Kesalahan tindakan preventif terhadap konflik yang terjadi, akan berakibat fatal bagi keutuhan sebuah Negara.
  1. KONFLIK DI EROPA TIMUR
Salah satu Pengalaman penanganan konflik etnik adalah konflik di Uni Soviet dan Negara-negara bagian, misalnya, menyadarkan banyak Negara akan arti pentingnya tindakan preventif untuk pencegahan konflik, agar tidak berdampak negatif bagi keamanan nasional mereka. Pengalaman Uni Soviet, yang gagal untuk mengantisipasi konflik menyebabkan Negara tersebut runtuh menjadi serpihan-serpihan Negara kecil, ternyata telah menyadarkan banyak Negara akan dampak langsung konflik bagi aspek pertahanan.
  1. LATAR BELAKANG KONFLIK DI EROPA TIMUR
Bubarnya Uni Soviet sebagai kesatuan politik bisa dipandang sebagai kebangkitan Etno-nasionalisme terhadap dominasi etnis Rusia di dalam formasi kenegaraan yang lama. Ia mungkin merupakan bentuk lain dari rapuhnya hasil-hasil pendekatan paksaan dan penindasan yang menjadi proyek nasionalisme Soviet. Peristiwa yang menghentakkan dunia kemudian berlanjut dengan runtuhnya komunisme di Eropa Timur.
Menurut Francis Fukuyama, drama itu adalah proses pemenuhan pesan profetis Hegelian, “The End Of History”, yang berwujud kemenangan Kapitalisme dan demokrasi Liberal di seluruh muka bumi. Ini berarti ide demokrasi liberal berjalan sendirian, tanpa adanya pesaing ideologis yang dapat bertahan terus. Dengan demikian, tahapan pascasejarah perkembangan manusia, walaupun mungkin dapat membosankan, telah tiba, dan tidak ada ancaman terhadap kekuasaan demokrasi liberal.Tetapi glorifikasi yang berlebihan atas peristiwa di Eropa itu kemudian terbukti tidak seluruhnya meyakinkan kita akan keberhasilan transformasi politik. Kemenangan awal society di Eropa dihadapkan pada kenyataan yang ironis berupa hancurnya sendi-sendi nasionalisme: persatuan, toleransi dan saling menghargai di antara kelompok-kelompok yang berbeda suku, agama dan ras, kenyataan ini menunutut kita untuk memikirkan kembali tentang hubungan antara demokratisasi dengan nasionalisme.dengan adanya kecenderungan lain yang juga nampak seiring dengan kemenangan Awal society di Eropah, adalah lahirnya bentuk-bentuk nasionalisme yang berdasarkan pada suku dan agama. Kematian rezim totaliter tidak secara langsung melahirkan demokrasi. Bahkan, dalam banyaknya kasus, berakhirnya rezim komunis justru mengawali praktek otorianismeme lain yang berkiprah pada nasionalisme yang sempit itu, sebagaimana terjadi di bekas wilayah Yugoslavia. ketidakmampuan civil society menjamin kohesi sosialnya sendiri. otoritas negara menurun dan masyarakat cenderung mengatur dirinya sendiri, yang terjadi adalah kekacauaan dan perang saudara. Tuduhan bahwa masyarakat kewargaan (civil society) tidak lebih dari satu entitas yang melumpuhkan dirinya sendiri.
  1. LATAR BELAKANG KONFLIK BOSNIA
Bosnia dan Herzegovina, juga dikenali sebagai Republik Bosnia dan Herzegovina, adalah sebuah negara di semenanjung Balkan di selatan Eropa dengan keluasan sebesar 51,129 km² (19,741 batu persegi) dengan jumlah sekitar empat juta penduduk.
Negara Bosnia dikenali dalam bahasa rasminya sebagai Bosna i Hercegovina dalam huruf Latin dan Босна и Херцеговина dalam huruf Cyrillic; namun biasanya, ia dipendekkan kepada Bosnia, BiH atau БиХ . Ibu negaranya ialah Sarajevo. Pemerintahan negara ini dilakukan secara terpencar dan negara Bosnia sebenarnya terdiri daripada persekutuan dua buah wilayah yang utama, iaitu, Persekutuan Bosnia dan Herzegovina dan Republika Srpska.
Bosnia dan Herzegovina merupakan sebuah wilayah perbatasan antara Kebudayaan Barat dan Timur. Pada Abad Pertengahan, wilayah tersebut menjadi ajang pertikaian dan perebutan pengaruh antara Romawi Barat yang Katolik dan Romawi Timur yang Ortodoks. Di tengah-tengah pergulatan tersebut, ikut pula sebuah kelompok bid'ah Kristen yang disebut Bogomil. Sekte ini terutama beranggotakan masyarakat kelas atas Bosnia. Kekuatan ketiga yang berpengaruh dalam sejarah negeri itu muncul pada akhir abad ke-13, ketika wilayah tersebut ditaklukkan oleh Turki Usmani yang beragama Islam. Pengikut Bogomil berbondong-bondong pindah ke agama Islam sehingga agama tersebut lenyap.
Perpindahan agama tersebut kebanyakan terjadi karena dorongan ekonomi, di mana apabila mereka memeluk Islam maka mereka tidak akan dibebani jizyah yang diterapkan terhadap penduduk non-Muslim.Dalam perkembangannya, kaum Muslim Bosnia mendapatkan status sama dengan orang Turki asli. Mereka menjadi tangan kanan orang Turki untuk memerintah penduduk Bosnia yang tetap memeluk agama leluhurnya. Oleh karena itu mereka menjadi pembela fanatik Kesultanan Usmani untuk menjaga hak-hak istimewa mereka.
sejak tahun 1463, Bosnia Herzegovina berada di bawah pemerintahan kerajaan Uthmaniah. Sebelum itu, Bosnia Herzegovina telah diperintah oleh beberapa kerajaan Kristian Katholik dan Ortodok. Di antaranya ialah kerajaan Byzantin, Hungary dan Serbia. Perbedaan mazhab di kalangan kerajaan-kerajaan Kristian yang memerintah telah mewujudkan dua lagi aliran penganut Kristian di Bosnia Herzegovina yaitu Kristian Katholik dan Kristian Ortodok selain daripada ajaran Kristiani Bogomil yang telah dianuti oleh orang-orang Kristian di negeri tersebut.
Penerimaan rakyat Bosnia Herzegovina kepada agama Islam telah mewujudkan satu identitas baru kepada rakyat Bosnia Herzegovina yang terdiri dari pecahan suku-suku bangsa dan agama kepada 'satu bangsa Islam'.
Masuknya pemikiran nasionalisme membawa perubahan besar dan tajam di Bosnia. Apabila sebelumnya secara umum penduduk wilayah itu disebut orang Bosnia dan hanya dibedakan menurut agamanya, kini mereka mengidentifikasikan diri dengan tetangganya. Orang Bosnia yang menganut Kristen Ortodoks mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Serbia sementara penganut Katolik menjadi orang Kroasia.Ketika Turki melemah, negara-negara jajahannya di Balkan memerdekakan diri.
Salah satu di antaranya adalah Serbia. Negara yang baru merdeka ini berusaha menggabungkan Bosnia namun ambisinya digagalkan oleh Kekaisaran Austria-Hongaria, yang mencaplok wilayah tersebut pada tahun 1908. Hal tersebut kemudian mendorong kaum nasionalis Serbia membunuh putera mahkota kekaisaran tersebut di Sarajevo pada tahun 1914. yang kemudian menyebabkan pecahnya Perang Dunia I.Setelah PD I usai, Bosnia dan Herzegovina, bersama-sama dengan Kroasia, Slovenia, dan Vojvodina, diserahkan oleh Austria kepada Kerajaan Serbia-Montenegro. Dari penggabungan ini muncullah Kerajaan Yugoslavia (Slavia Selatan).Akan tetapi perpecahan segera melanda negeri itu akibat pertentangan dua etnis utamanya. Orang Serbia berusaha membangun negara kesatuan sementara orang Kroasia menginginkan federasi yang longgar. Kaum Muslim Bosnia terjebak dalam pertikaian tersebut karena kedua pihak memperebutkan wilayah tersebut. Beberapa kaum Muslim mendukung klaim Serbia dan menyebut dirinya sebagai Muslim Serbia. Namun lebih banyak lagi yang pro -Kroasia dan menyebut dirinya sebagai orang Muslim Kroasia. Pertentangan tersebut kemudian meledak menjadi kekerasan setelah Jerman Nazi menguasai Yugoslavia tahun 1941.
  1. PERANG BOSNIA
Datangnya umat Muslim ketanah Bosnia membuat banyak Perubahan yang mendasar, baik dalam system Politik, Ekonomi, dan Kebudayaan, Bahkan menjalar keranah Hukum. Ini terbukti dengan jumlah Masyarakat Bosnia Herzegovina yang hampir setengahnya beragama islam. Sedangkan sisanya terbagi dalam masyarakat Kristen Katolik, Kristen Orthodok, dan Khatolik Roma.
Hal tersebut membuat kecemburuan social dan Perbedaan social yang begitu kental antara kaum Muslim dan Non-Muslim. Akhirnya pada tahun 1875-1878 terjadi perang antara tentara kerajaan yang beragama Muslim melawan Masyarakat Etnis Bosnia yang beragama Kristen Orthodok. Perang terus berlanjut bahkan kini melibatkan seluruh etnis yang ada di Bosnia Herzegovina melawan Masyarakat Muslim yang berlatarbelakangkan Etnis Kroasia.
Pada tanggal 17 September 1978 Etnis Kroasia yang berkuasa sejak Abad ke-14 berhasil diusir dan ditundukan oleh etnis Serbia. Setelah Perang besar antar suku dan etnis yang didasari oleh perbedaan agama tersebut berakhir, Bosnia belum sepenuhnya aman, karena perjuangan dari etnis kroasia belum berakhir.
Perang Bosnia Kembali pecah. Perang ini terjadi pada 2 maret 1992 dan november1995. perang ini melibatkan beberapa pihak yaitu bosnia dan republik federal Yugoslavia kemudian Serbia dan Montenegro begitu pula kroasia yang telah menjadi sebuah “contoh” bentuk pembersihan etnis yang pernah terjadi di dunia Konflik ini adalah kejadian paling brutal yang pernah dialami oleh Eropa semenjak berakhirnya Perang Dunia II yang melibatkan beberapa pihak, antara lain Bosnia-Herzegovina, Republik Federal Yugoslavia (yang kemudian dikenal dengan Serbia-Montenegro), dan Kroasia. Konflik yang terjadi terbagi menjadi beberapa bagian , yaitu :
  1. MACAM – MACAM KONFLIK DI EROPA TIMUR
  1. Perang Antara Serbia Bosnia dan Kroat Serbia
Perang antara etnis Serbia dengan etnis Kroasia terjadi pada awal tahun 1992 akibat tidak menentunya situasi di wilayah Bosnia Herzegovina. Aksi-aksi dari pihak Kroasia terhadap pihak Serbia Bosnia Herzegovina atau sebaliknya telah mengawali perang antara etnis Serbia Bosnia dan Kroat Bosnia. Pecahnya konflik bersenjata antara pihak Serbia Bosnia dan Kroat Bosnia dimulai dari serangan pihak Kroat Bosnia, dibawah pimpinan dari golongan ekstrim kanan Kroasia, terhadap penduduk Serbia Bosnia di desa Sijekovac dekat kota Bosanski Brod (bagian utara Bosnia Herzegovina) yang menewaskan 29 orang penduduk sipil Serbia Bosnia Herzegovina, 7 orang wanita Serbia Bosnia menderita perkosaan dan 3 diantaranya dibunuh.
Peristiwa tersebut dilakukan oleh 35 orang kelompok bersenjata Garda Kroasia/pasukan Kroasia dibawah pimpinan Dobrosav Paraga, yang berakibat memicu terjadinya perang antara pihak Kroat Bosnia dengan Serbia Bosnia. Selanjutnya pertempuran antara Serbia Bosnia dengan Kroat Bosnia tidak saja terjadi di bagian utara wilayah Bosnia Herzegovina akan tetapi juga di wilayah-wilayah lainnya dimana terdapat kepentingan yang sama antara Serbia Bosnia dan Kroat Bosnia.
Situasi politik yang tegang, pernyataan-pernyataan para anggota pimpinan ketiga golongan etnis yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dari hari ke hari makin mempertegang situasi, namun keadaan masih tetap dibawah kontrol
Hasil pertempuran ternyata hampir 2/3 wilayah Bosnia Herzegovina telah dikuasai oleh pasukan Serbia Bosnia selama 28 bulan terakhir dalam konflik bersenjata yang ada di Bosnia Herzegovina. Akibat perang Serbia Bosnia dengan Muslim-Kroat telah menimbulkan korban yang sangat besar jumlahnya yang diperkirakan ratusan ribu tewas (penduduk sipil maupun militer). Gencatan senjata yang disetujui antara pihak Serbia Bosnia Herzegovina dengan Muslim-Kroasia tidak pernah dilaksanakan akibat banyaknya formasi-formasi militer yang tidak dibawah komando tentara reguler yang ada di Bosnia Herzegovina dan juga diperkirakan akibat kurangnya pengaruh pimpinan politik terhadap pihak-pihak militer.
Perkembangan situasi politik di Bosnia Herzegovina turut mempengaruhi perkembangan situasi militer. Kegagalan-kegagalan usaha-usaha perdamaian yang disponsori oleh masyarakat internasional telah mendorong meningkatnya pertempuran-pertempuran diantara pihak-pihak yang bertikai di Bosnia Herzegovina. Persetujuan-persetujuan gencatan senjata tidak mampu menghentikan perang yang berkobar diantara pihak-pihak yang bertikai terutama antara pasukan Muslim Bosnia bersama-sama dengan Kroat Bosnia melawan pasukan Serbia Bosnia.
Meningkatnya pertempuran antara pasukan Muslim Bosnia dan Kroat Bosnia melawan pasukan Serbia Bosnia, antara lain disamping sebagai akibat terbentuknya Federasi Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia sesuai inisiatip Washington pada bulan Maret 1994, juga dikarenakan adanya persetujuan-persetujuan gencatan senjata yang tidak dipatuhi oleh pihak-pihak yang bertikai. Dengan kata lain, satu pihak mematuhi akan tetapi pihak lainnya melakukan pelanggaran-pelanggaran dan memanfaatkan gencatan senjata sebagai momentum yang baik untuk melancarkan operasi-operasi militernya.
Daerah-daerah konflik yang paling sengit antara pasukan Muslim dan Kroat Bosnia melawan Serbia Bosnia terjadi di daerah-daerah strategis utamanya di Gunung Ozren (sebelah utara kota Sarajevo), kota Brcko (bagian utara Bosnia Herzegovina), Gorazde, Maglaj dan Olovo, akhirnya meluas ke wilayah Sarajevo yaitu di kota Vares (lebih kurang 40 km dari Sarajevo). Dalam pertempuran tersebut pasukan Muslim Kroat berusaha untuk merebut wilayah-wilayahnya yang hilang selama terjadinya krisis di Bosnia Herzegovina 2 tahun sebelumnya karena pasukan Serbia Bosnia telah menguasai hampir 2/3 wilayah Bosnia Herzegovina selama pertempuran-pertempuran dengan pihak Muslim Bosnia maupun pihak Kroat Bosnia.
Proses penyelesaian yang terjadi merupakan proses perdamaian yang sangat panjang, bahkan hampir menyamai perang antara kaum yahudi dan Muslim Filistin di timur tengah. Berbagai macam cara di lakukan oleh Masyarakat Eropa dan Amerika tetapi hal tersebut tidak berjalan dengan baik, karena tekanan dari Rusia dan dorongan untuk melakukan perdamaian tidak dilakukan dengan sepenuh hati, hal tersebut disebabkan oleh keinginan negara-negara eropa untuk menguasai bosnia, sehingga menjadi nilai tambah dari politik militer dan geopolitik khususnya.
  1. Perang Antara Etnis Serbia Bosnia dengan Muslim Bosnia
Klimaks konflik terjadi setelah Masyarakat Eropa dan AS mengakui Bosnia Herzegovina sebagai negara merdeka dan berdaulat. Hal ini telah mendorong pimpinan Bosnia-Herzegovina yang terdiri dari etnis Muslim & Kroat menuduh etnis Serbia Bosnia yang sebagai "agresor" terhadap negara merdeka dan berdaulat Republik Bosnia Herzegovina. Pertempuran antara pihak Serbia Bosnia dengan Muslim Bosnia berkecamuk kembali terutama di wilayah Sarajevo, wilayah utara Bosnia Herzegovina dan wilayah bagian timur Bosnia Herzegovina.
  1. Perang Antara Serbia Bosnia dengan Aliansi kroat Bosnia
Dalam upaya politik antara Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia telah terbentuk koalisi sejak proses pemisahan diri Republik Bosnia Herzegovina dari Yugoslavia. Keadaan tersebut juga diikuti di bidang militer dimana terjadi aliansi antara kekuatan militer Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia untuk mengimbangi kekuatan Serbia Bosnia.Penyelesaian krisis di wilayah Bosnia Herzegovina melalui perundingan yang tidak menghasilkan sesuatu untuk menghentikan krisis Bosnia Herzegovina telah mendorong konflik bersenjata di lapangan antara pihak Serbia Bosnia dengan Muslim-Kroat Bosnia semakin meluas untuk mencapai kepentingan-kepentingannya. Dalam perang saudara, perang antar etnis dan agama yang terjadi di Bosnia Herzegovina banyak diwarnai oleh pertempuran-pertempuran antara pasukan Serbia Bosnia dengan pasukan Muslim-Kroat. Front pertempuran timbul di seluruh wilayah Bosnia Herzegovina.




  1. Perang Etnis Muslim Bosnia dengan Etnis Kroat bosnia
Meskipun antara etnis Muslim dengan Kroat telah membentuk koalisi, akan tetapi pada prinsipnya kedua kelompok tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda dalam krisis di Bosnia Herzegovina. Persekutuan Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia hanya merupakan upaya untuk mencapai tujuan masing-masing. Pihak Kroat Bosnia mempunyai cita-cita untuk menyatukan Bosnia Herzegovina dengan Kroasia ataupun memisahkan wilayah dimana terdapat etnis Kroat Bosnia untuk selanjutnya bergabung dengan Republik Kroasia.Oleh sebab itu perang antara Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia secara tidak langsung ikut menghancurkan potensi militer di Bosnia Tengah. Situasi pertempuran antara pasukan Muslim Bosnia Herzegovina dengan Kroasia Bosnia Herzegovina pada awalnya kemenangan di pihak Kroasia Bosnia Herzegovina akan tetapi dalam posisi terakhir pasukan Muslim Bosnia Herzegovina dapat memukul pasukan Kroasia Bosnia Herzegovina dimana pasukan Muslim Bosnia telah mendapat perkuatan dari pasukan-pasukan sukarelawan asing (khususnya Mujahidin yang diperkirakan berjumlah 3.000 orang) dan mulai menguasai kota-kota penting di Bosnia Tengah. Pertempuran antara Kroat Bosnia dengan Muslim Bosnia di Bosnia Tengah telah menimbulkan korban dan pengungsian penduduk besar-besaran dari wilayah tersebut yang sering disebut dengan istilah “ethnic cleansing”.
  1. Pertikaian Antara Muslim di Bosnia Barat
Setelah Konferensi-Konferensi mengenai Perdamaian tentang Bosnia Herzegovina gagal, akhirnya pada tanggal 27 September 1993, Cazin-Krajina, daerah kantong Muslim yang paling besar di bagian barat Bosnia Herzegovina telah diproklamirkan dan ditetapkan sebagai Propinsi Otonomi Bosnia Barat (Autonomous Province of Western Bosnia). Proklamasi Propinsi Otonomi Bosnia Barat dilakukan dengan suara bulat oleh 400 delegasi dalam suatu Sidang Konstitusional Parlemen di Velika Kladusa (kota terbesar di wilayah Cazin-Krajina). Badan yang sama juga memilih dengan suara bulat Fikret Abdic sebagai Presiden APWB. Proklamasi ini ditentang oleh pemimpin Muslim Bosnia, Alija Izetbegovic, yang memerintahkan pasukannya untuk menindak Fikret Abdic sehingga menimbulkan pecahnya perang di kalangan Muslim sendiri yaitu antara Faksi Muslim Bosnia Herzegovina pengikut Alija Izetbegovic melawan pengikut Muslim moderat Fikret Abdic.

Perkembangan yang menarik dari konflik antar Muslim Bosnia Herzegovina bagian barat tersebut adalah adanya sikap pasukan Alija Izetbegovic yang tidak sepenuhnya bertempur menghadapi pasukan pimpinan Fikret Abdic bahkan tidak sedikit pasukan-pasukan pimpinan Alija Izetbegovic yang menyeberang ke pihak Fikret Abdic. Kondisi tersebut telah memaksa banyaknya pergantian-pergantian unsur pimpinan militer Alija Izetbegovic di Bosnia Herzegovina Barat.
  1. Bosnia dan Serbia - montenegro
`Sengketa yang diajukan oleh Bosnia-Herzegovina atas pembunuhan massal di Srebrenica adalah kasus pertama yang diterima oleh ICJ yang berkenaan dengan kejadian genosida selama berdirinya ICJ. Kasus yang masuk ke ICJ ini menjadi sebuah yurisprudensi penting untuk hukum internasional semenjak pelaksanaan Pengadilan Nuremberg pada tahun 1946. Tuntutan Bosnia-Herzegovina terhadap Serbia-Montenegro menjadi sebuah pembuktian dari penerapan, kemampuan, dan validitas ICJ dalam menegakkan CPPCG untuk saat ini dan masa depan.Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Salah satunya, apakah negara dapat diminta pertanggungjawaban dalam kasus genosida .negara memang dapat diminta pertanggungjawaban dalam hal ini, maka akan muncul kesalahan bersama yang bertentangan dengan konsep pertanggungjawaban indivudual dalam pelanggaran HAM berat.
  1. Disintegrasi Yugoslavia
Sejarah Yugoslavia dapat ditelusuri sejak abad ke- VI, dan bangsa yang dianggap sebagai nenek moyang bangsa Yugoslavia ialah bangsa Carpadus. Bangsa-bangsa yang berturut-turut datang dan menguasai wilayah tertentu di Yugoslavia antara lain bangsa Romawi, Bangsa Perancis, Austro-Hungaria, Turki, Italia, dan Jerman. Di wilayah Yugoslavia pertama-tama terdapat beberapa bangsa kecil yang berdiri sendiri-sendiri sehingga memungkinkan bangsa-bangsa pendatang tersebut menjajah beberapa wilayah dalam kurun waktu yang cukup panjang. Perjuangan bangsa Yugoslavia untuk mengusir penjajah dimulai oleh Serbia dan Montenegro yang mendapat pengakuan kemerdekaan sepenuhnya dalam tahun 1878. Dalam perang Balkan tahun 1912, mengadakan persekutuan dengan Bulgaria dan Yunani melawan Turki dan berhasil mengakhiri penjajahan Turki di Yugoslavia. Dalam tahun 1914 situasi politik di Yugoslavia menjadi genting karena pembunuhan putra mahkota Austro-Hungaria, Franz Ferdinand, di Sarajevo oleh seorang pemuda Serbia bernama Gavrilo Princip
Anggota Organisasi Pemuda "Bosnia Muda". Kejadian tersebut memperuncing hubungan Serbia dengan Austro-Hungaria karena Austria menuduh komplotan Serbia sebagai mendalangi pembunuhan itu. Pemerintah Serbia menolak permintaan Austro-Hungaria untuk menyelidiki kasus tersebut. Tindakan Serbia yang melaksanakan mobilisasi umum menyebabkan Austro-Hungaria mengumumkan perang terhadap Serbia dan akibatnya pecahnya Perang Dunia Pertama
  1. Awal bencana yugoslavia
Dimasa kepemimpinan Tito Republik Federasi Sosialis Yugoslavia cukup populer di fora internasional, berkat popularitas kepemimpinan pribadi Tito. Figur Tito sebagai tokoh pemersatu bangsa Yugoslavia memang tepat karena disamping bakat kepemimpinan dan kewibawaannya, sebagai keturunan dari etnis Kroasia Tito menikah dengan warga etnis Serbia. Akan tetapi keadaan kemudian berubah yaitu ketika pada bulan Mei 1980 Tito meninggal dunia tanpa sempat mempersiapkan pengganti yang sekuat dirinya. Sepeninggal Tito, kehidupan politik dan negara seakan-akan kehilangan arah. Negara yang kemudian dipimpin secara kolektip oleh suatu badan Presidensi berjumlah delapan orang dan partai juga dipimpin Presidium beranggotakan 24 orang, ternyata praktek pengambilan keputusan sering berbenturan satu sama lain, sesuai dengan kepentingan masing-masing dan memperdalam perpecahan. Demikian juga pengaruh pimpinan Federal (partai maupun Negara) menjadi semakin berkurang, dan dilain fihak pengaruh kekuasaan Republik bagian menjadi bertambah kuat. Perkembangan ini semakin membawa Yugoslavia kearah jurang perpecahan nasional ketika tahun 1991 Slovenia dan Kroasia menarik anggotanya dari badan kolektip tersebut dan kemudian diikuti oleh wakil-wakil dari Republik Makedonia dan Bosnia Herzegovina. Puncak dari memburuknya situasi politik di Yugoslavia ialah ketika pada tanggal 25 Juni 1991 Slovenia dan Kroasia memproklamirkan kemerdekaan dan kedaulatannya secara sefihak yang diikuti dengan pembentukan mata uang sendiri, termasuk pembentukan Angkatan Bersenjata dan penentuan tapal batas wilayah negara sendiri. Setelah itu Republik Bosnia Herzegovina pada bulan Maret 1992 mengadakan referendum untuk menentukan sebagai negara merdeka atau tetap dalam Federasi.
  1. Banjir darah di sentral Yugoslavia
Republik Bosnia Herzegovina terletak di bagian sentral Yugoslavia, dan sering dianggap sebagai "miniatur Yugoslavia" karena penduduknya multi nasional yaitu terdiri dari bangsa Muslim, Serbia dan Kroasia yang bercampur menjadi satu.
Itulah sebabnya Republik tersebut sebelum mendapat pengakuan internasional masih dilanda pertikaian-pertikaian seperti masalah etnis, tidak adanya kesamaan pendapat mengenai bentuk masa depan Republik tersebut dan masalah perebutan kekuatan masalah wilayah termasuk penguasaan industri-industri / pabrik-pabrik serta masalah-masalah lainnya. Perbedaan-perbedaan yang mendalam diantara penduduk konstitutip Bosnia Herzegovina ditambah adanya gesekan-gesekan dari pihak luar telah memercikkan api pertikaian diantara mereka yang akhirnya berubah menjadi perang saudara, agama dan etnis yang terus berlanjut di Bosnia Herzegovina. Oleh sebab itu pengakuan internasional yang terlalu dini terhadap Republik Bosnia Herzegovina tersebut dinilai merupakan sumber terjadinya krisis di Bosnia Herzegovina mengingat masih banyaknya masalah-masalah yang belum diselesaikan. Untuk mengetahui secara lebih detil tentang peperangan yang terjadi di Bosnia, lihat Banjir darah di Bosnia
  1. DAMPAK KONFLIK BOSNIA
Perang Bosnia menewaskan 100 ribu orang dan 2,2 juta orang terlantar. Total, dia menghadapi 11 dakwaan terkait genosida, kejahatan perang, dan kejahatan kemanusiaan.Terjadinya Intoleransi dan konflik antara anggota-anggota dari berbagai kelompok agama dan etnis di bosnia.menimbulkan ketegangan-ketegangan namun di satu sisi ketegangan tersebut tidak pernah memecah belah warga Bosnia hingga satu kelompok melawan kelompok yang lain. Kebanyakan konflik dalam sejarah Bosnia diimpor atau disetir dari Ankara, Wina, Berlin, Beograd, dan Zagreb untuk tujuan pendudukan wilayah atau eksploitasi sumber-sumber alam setempat.
Satu pengecualian penting dalam sejarah terakhir adalah Perang Bosnia (1992 -1995), yang meletus sebagai akibat dari perpecahan Yugoslavia dan membawa begitu banyak kesengsaraan dan kehancuran terhadap wilayah tersebut. Pada akhirnya, perdamaian dipulihkan oleh kekuatan NATO. Tetapi setelah Perjanjian Damai Dayton tahun 1995, yang mengakhiri perang tiga tahun tersebut, para pengungsi kembali ke rumah-rumah mereka dan menemukan kota-kota mereka telah terbagi-bagi – kadang secara fisik – berdasarkan garis etnis. Perundang-undangan setempat yang membatasi kebebasan bergerak juga turut memperburuk ketegangan-ketegangan ini dan menghalangi berbagai upaya rekonsiliasi.
Akibatnya, banyak wilayah di Bosnia dan Herzegovina yang tetap terbagi-bagi – secara politis, keagamaan, dan etnis – bahkan hingga sekarang.
Tetapi yang jelas, di tempat-tempat itu koeksistensi antara rakyat biasa dari berbagai agama dan etnis tidak pernah berhenti, bahkan selama perang berlangsung sekalipun. Inilah masyarakat yang dapat menjadi teladan bagi kawasan tersebut. Inilah orang-orang yang menganut jalan tengah dan menolak untuk bersekutu dengan mereka yang melakukan tindak-tindak kekerasan berdasarkan etnis atau agama dan berbalik melawan tetangga-tetangga mereka di saat bahaya. Kota-kota seperti Sarajevo, Mostar, dan Tuzla, dikenal memiliki penduduk lintas etnis terbesar di kawasan Balkan. Dalam berbagai pengepungan selama perang terjadi, tetangga dan tetangga berkumpul, tanpa memandang etnis atau agama, untuk melindungi satu sama lain dan melindungi kota-kota mereka dari kehancuran. Jadi, persenjataan berat yang menghujani mereka malah menciptakan solidaritas, dan bukannya memisahkan mereka. Berdasarkan sejarah, lingkungan di kota-kota ini tidak dibagi berdasarkan identitas kelompok. Dari generasi ke generasi telah ada pencampuran antar etnis dan antar agama dan koeksistensi seperti ini telah dianggap sebagai norma. Kota-kota ini tidak seperti kota-kota lain di kawasan ini yang memiliki satu kelompok etnis atau agama mayoritas.
Sikap guyub selama perang ini menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat dapat dipecah belah berdasarkan garis etnis atau agama, bahkan pada saat-saat perang. Malahan, orang-orang dari berbagai latar belakang malah bersatu sebagai reaksi terhadap upaya-upaya agresif untuk memecah-belah mereka.Walaupun ada tragedi kekerasan pada tahun 1990-an dan disusul tahun-tahun penuh gejolak setelahnya, koeksistensi antara berbagai kalangan di Bosnia dan Herzegovina terus bertahan. Ketahanan dari masyarakat di wilayah tersebut, khususnya mereka yang masih bekerja untuk membangun masyarakat dari kelompok yang terpecah-belah, bisa menjadi teladan tidak hanya untuk kawasan Balkan, tetapi juga bagi negara-negara lain di seluruh dunia yang terpecah-belah akibat konflik.
  1. UPAYA-UPAYA PENYELESAIAN
Usaha-usaha perdamaian konflik disponsori oleh Masyarakat Eropa melalui Konperensi Internasional yang akhirnya diambil-alih oleh PBB. Upaya-upaya perdamaian yang ditempuh yaitu :


  1. Perundingan Sarajevo. Pada tanggal 17 Maret 1992 dilaksanakan pertemuan yang kelima kalinya antara tokoh-tokoh partai/etnis Bosnia Herzegovina (Muslim, Kroasia dan Serbia) yang disponsori oleh Masyarakat Eropa dibawah diplomat Portugal, Hose Cutleri, yang menyarankan adanya kantonisasi. Bosnia Herzegovina akan menjadi negara yang terdiri dari 3 unit etnik dan tetap berada didalam batas wilayah yang ada sekarang. Usul ditolak oleh Presiden Bosnia Herzegovina, Alija Izetbegovic yang mengakibatkan tidak tercapainya kesepakatan dalam perundingan tersebut.
  2. Perundingan Lissabo. Pada tanggal 27 Mei 1992, Konferensi Internasional yang pertama tentang Yugoslavia yang diorganisir oleh Masyarakat Eropa dilaksanakan di Lissabon sebagai lanjutan dari perundingan Sarajevo. Dalam perundingan damai tersebut ketiga pihak yang bertikai telah menyetujui bahwa Republik Bosnia Herzegovina akan menjadi negara yang terdiri dari 3 unit etnis dan tetap dalam batas wilayah yang ada sekarang. Menurut gagasan tersebut maka Republik Bosnia Herzegovina akan dibentuk sebagai Konfederasi yang terdiri dari "kanton-kanton".
Akan tetapi perundingan Lissabon tidak berhasil menghentikan krisis di Bosnia Herzegovina akibat sikap pihak Muslim Bosnia Herzegovina yang meninggalkan sidang karena adanya kejadian di Sarajevo dimana terjadi ledakan bom yang menewaskan puluhan penduduk dan pihak Serbia Bosnia Herzegovina dituduh sebagai pelaku peledakan tersebut. Pihak Muslim Bosnia Herzegovina tidak mau melanjutkan sidang dan perundingan pun dianggap gagal.
  1. Perundingan Beograd. Pada tanggal 19 Juni 1992, perundingan damai mengenai Bosnia Herzegovina dilaksanakan di Beograd dengan mediator [Lord Carrington]] maupun Menlu Portugis, Jono de Pinjora. Tidak terdapat titik-temu antara pihak-pihak yang bertikai mengenai pengakhiran krisis di Bosnia Herzegovina.
  2. Perundingan Sarajevo. Pada tanggal 22 Juni 1992 berlangsung perundingan Presiden Bosnia Herzegovina, Alija Izetbegovic, dengan Kepala Staf UNPROFOR wilayah Yugoslavia, Letjen Lewis McKeuzic, dalam rangka membicarakan penyelesaian perang. Tidak terdapat hasil konkrit dari pertemuan tersebut karena terjadi ledakan di Sarajevo yang mengakibatkan 8 orang penduduk tewas dan 35 orang luka-luka.
  3. Konperensi Internasional mengenai Yugoslavia di London. Pada tanggal 26 - 28 Agustus 1992 Konperensi Internasional mengenai Yugoslavia dilaksanakan di London yang diprakarsai oleh Presiden Perancis dan dipimpin oleh Menlu Inggris, Douglas Hurd dan Sekjen PBB. Konperensi diselenggarakan guna mencari formula damai atas krisis yang terjadi di wilayah Yugoslavia sekaligus membawa pihak-pihak yang bertikai ke meja perundingan. Hasil-hasil pertemuan ternyata belum dapat menghentikan konflik di Bosnia Herzegovina karena perlu pertemuan-pertemuan yang lebih lanjut guna mencapai hal-hal yang konkrit.
  4. Konperensi Internasional mengenai Yugoslavia di Jenewa.
  5. Konperensi Internasional mengenai Yugoslavia di New York.
  6. Perundingan Jenewa mengenai penyelesaian krisis Kroasia dan Serbia Krajina (RSK). Pada tanggal 7 April 1993, Kroasia dan RSK telah menanda-tangani suatu persetujuan gencatan senjata dalam perundingan yang dilangsungkan di Jenewa akan tetapi persetujuan tersebut akan dapat dilaksanakan jika Parlemen RSK dalam sidangnya tanggal 10 April 1993 meratifikasi persetujuan tersebut. Persetujuan gencatan senjata itu merupakan penghentian seluruh operasi militer Kroasia di wilayah RSK yang menjadi wilayah UNPA dan penarikan pasukan Kroasia ke posisi sebelum Kroasia melancarkan serbuannya ke wilayah tersebut. Dalam waktu yang samapersetujuan itu juga meminta penempatan senjata-senjata berat RSK dibawah pengawasan pasukan UNPROFOR.
  7. Konperensi Athena tentang pengakhiran krisis di wilayah Bosnia Herzegovina. Pada tanggal 1 - 2 Mei 1993, sidang paripurna tentang pengakhiran krisis di wilayah Bosnia Herzegovina diselenggarakan. Dalam konperensi tersebut hadir ketiga pemimpin bangsa Bosnia Herzegovina, Presiden RFY, Presiden Kroasia, Ketua Konperensi Jenewa dan Utusan Khusus AS maupun Russia. Dalam konperensi tersebut akhirnya pihak Serbia Bosnia Herzegovina menanda-tangani paket perdamaian "Vance-Owen" namun dengan syarat perlu pengesyahan melalui sidang Parlemen Serbia yang akan dilaksanakan tanggal 5 Mei 1993. Baik sidang Parlemen Serbia Bosnia Herzegovina maupun referendum yang dilaksanakan oleh rakyat Serbia Bosnia Herzegovina ternyata menolak apa yang disebut paket perdamaian "Vance-Owen" tersebut diatas.
  8. Pertemuan puncak di Jenewa
  9. Perundingan Kroasia dengan Serbia Krajina di Jenewa. Pada tanggal 6 - 8 Juli 1993, dilaksanakan perundingan normalisasi hubungan antara Kroasia dan Serbia Krajina (RSK) di Jenewa.
  10. Perundingan damai Bosnia Herzegovina di Washington.
  11. Perundingan damai Bosnia Herzegovina di Wina - Austria.
  12. Perundingan damai antara pihak RSK dan Republik Kroasia di Zagreb.
  13. Upaya perundingan damai Bosnia Herzegovina melalui "Kontak Group”
Selanjutnya, beberapa penegasan yang dilakukan oleh ICJ adalah :
  1. Berdasarkan bukti yang jelas bahwa pembunuhan yang terjadi secara massif di tempat-tempat tertentu dan kamp-kamp konsentrasi di wilayah Bosnia-Herzegovina dilakukan selama terjadinya konflik (Perang Bosnia).
  2. Orang-orang yang menjadi bagian dari kelompok yang dilindungi di Srebrenica telah menjadi korban perlakuan yang tidak pantas, pemukulan, pemerkosaan, penyiksaan yang menyebabkan cacat fisik dan mental yang serius, selama berada di kamp konsentrasi.
  1. PERANAN HUKUM HUMANITER DALAM MENGATASI KONFLIK SOSIAL DIBOSNIA
Hukum Humaniter yang ada tidak berjalan dan bekerja dengan baik, pada saat perang 1975-1978 bahkan hukum humaniter tidak dianggap dapat menyelesaikan permasalahan karena tidak diganakannya hukum tersebut dalam perang yang terjadi.
Peranan Hukum Humaniter tidak berjalan dengan baik karena perhatian Internasional terpusatkan pada Perang dingin yang akan terjadi antara Uni-Soviet dan Amerika Serikat.
Pada tahun 1992 hukum humaniter kembali digencarkan dikawasan Bosnia, tetapi hanya sebatas gencatan senjata, dan hal tersebut tentunya tidak mendorong pihak atau kelompok yang bertikai mengikuti peraturan tersebut.
Akhirnya pada tahun 1994, Rusia mengajukan penawaran Politiknya yang pertama dengan Negara Luar Uni Soviet Pasca runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Rusia menjadi penengah dan pihak ketiga untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai. Dan gencatan senjata dilakukan, tetapi belum cukup sampai disana, pertikaian masih sering terjadi walaupun dalam jumlah dan intensitas serta pengaruh keamanan yang kecil
  1. KESIMPULAN
Konflik Sosial yang ter jadi antar etnis bahkan antar Golongan dan kelompok yang melanda Bosnia Herzegovina disebabkan oleh permaslahan utama yang menjadi dasar permasalahan yaitu perbedaan strata social yang menyebabkan ketidak seimbangan kondisi politik, ekonomi dan social antar masyarakat, antar golangan, etnis bahkan agama. Perebutan wilayah m,enjadi agenda khusu tiap-tiap anggota kelompok yang bertikai dengan berbagai tujuan.
Situasi perang yang terus berlangsung tidak membuat Badan Organisasi Dunia memfokuskan permasalah yang terjadi di Bosnia, hal tersebut disebabkan karena isu tentang perang nuklir antara Amerika dan Uni Soviet.
Usai runtuhnya Rusia sebagai kekuatan pesaing amerika, PBB mulai memusatkan diri ke wilayah konflik Bosnia, tetapi sudah terlambat karena masyarakat Bosnia sudah mulai terbiasa dengan perang, dan menganggap bahwa hukum humaniter tidak berjalan dengan baik diwilayah mereka.
Upaya yang dilakukan secara diplomasi maupun secara militer dilakukan Dewan Keamanan PBB di Bosnia dengan tujuan untuk menekan kelompok-kelompok yag bertikai.
Pada tahun 1994, perang atau konflik antar kelompok yang terjadi di Bosnia dapat diredam secara besar-besaran oleh PBB berkat bantuan Rusia sebagai pihak tengah. Walaupun kondisi keamanan diwilayah Bosnia sudah mulai membaik, tetapi konflik-konflik kecil antar kelompok masih sering terjadi, walaupun dalam jumlah yang kecil.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar