Latar Belakang
Asia Selatan adalah sebuah wilayah geopolitik di bagian selatan benua Asia, terdiri dari daerah-daerah di dan sekitar anak benua India. Wilayah ini dibatasi oleh Asia Barat, Tengah, Timur, dan Tenggara. Wilayah Asia Selatan meliputi 10% luas benua Asia, kira-kira 4.480.000 km² tetapi populasinya mencakup 40% populasi Asia. Kebanyakan dari daerah itu mendapat pengaruh budaya India.
Kawasan Asia Selatan merupakan kawasan yang terdiri dari India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan tiga negara kecil yaitu Nepal, Maladewa, dan Bhutan. Seluruh Negara-negara tersebut memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, namun sayangnya tidak dikelola secara baik yang mengakibatkan banyak kasus konflik horizontal yang bersifat ekonomi, politik, sosial, dan budaya di tiap-tiap negara tersebut. Berangkat dari konflik-konflik itulah dibutuhakn suatu organisasi regional untuk mewadahi tiap-tiap negara Asia Selatan demi mewujudkan kawasan yang terintegrasi dan demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal, kesejahteraan rakyatnya, dan perdamaian di tiap-tiap negara. Maka pada tanggal 8 Desember 1985 dibentuklah The South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC). Demi untuk mempercepat investasi lintas-perbatasan di wilayah itu, yang akan memacu perkembangan ekonomi semua negara anggota, munculah “Kawasan Perdagangan Bebas Asia Selatan” atau South Asian Free Trade Area (SAFTA)
Negara-negara anggota SAARC mengharapkan bahwa dengan terciptanya suatu kawasan perdagangan bebas dapat membantu dan menolong mereka dalam aspek ekonomi terutama dalam era globalisasi seperti ini. Dengan adanya perdagangan bebas diharapkan dapat meningkatkan kegiatan perekonomian di kawasan regional Asia Selatan.
PEMBAHASAN
Bhutan
Bhutan adalah sebuah negara kecil di Asia Selatan yang berbentuk Kerajaan dan dikenal dengan Negeri Naga Guntur. Wilayahnya terhimpit antara India dan Republik Rakyat Cina. Nama lokal negara ini adalah Druk Yul, artinya "Negara Naga". Gambar nagapun didapati di benderanya. Pemerintahan yang dijalankan dengan kekuasaan monarki absolut. Secara historis, Bhutan dikenal dengan banyak nama, seperti 'Lho Mon' (Negeri Kegelapan dari Selatan), 'Lho Tsendenjong' (Negeri Cendana dari Selatan), 'Lhomen Khazhi' (Negeri Empat Tujuan dari Selatan), dan 'Lho Men Jong' (Negeri Obat Tumbuhan dari Selatan).
Sepanjang dasawarsa terakhir, politik Bhutan terjadi dalam kerangka monarki absolut yang berkembang menjadi monarki konstitusional. Pada 1999, raja ke-4 Bhutan menciptakan badan 10 anggota yang disebut Lhengye Zhungtshog (Dewan Menteri). Raja Bhutan adalah kepala negara. Kekuasaan eksekutif dilaksanakan oleh Lhengye Zhungtshog, dewan menteri. Kekuasaan legislatif dipegang oleh pemerintah dan Majelis Nasional. Pada tahun 2008, Bhutan menciptakan sejarah dengan memperkenalkan demokrasi parlementer, sehingga kerja-kerja berubah dan partai politik kini resmi. Dalam sistem baru ini terdapat parlemen yang terdiri dari majelis tinggi dan majelis rendah — anggota majelis rendah terafiliasi dengan partai-partai politik. Pemilihan anggota majelis tinggi dilaksanakan untuk pertama kalinya pada Desember 2007 sementara pemilihan anggota majelis rendah dilaksanakan pada Maret 2008. Partai Perdamaian dan Kesejahteraan Bhutan memenangi pemilihan majelis rendah dengan meraih 44 dari 47 kursi. Kekuasaan peradilan dilaksanakan di semua pengadilan Bhutan. Jaksa Agung ialah kepala administratif peradilan. Saat warganya dipandang bebas bepergian keluar negeri, Bhutan sering tak terjangkau orang asing. Kesalahan gambaran meluas bahwa Bhutan telah membatasi visa turis, tarif yang tinggi, dan permintaan pergi dengan tur paket nampaknya menciptakan kesan ini.
Pakaian tradisional buat lelaki Ngalong and Sharchop adalah gho, jubah sepanjang lutut yang diikatkan di pinggang dengan sabuk pakaian yang dikenal sebagai kera. Wanita mengenakan gaun sepanjang pergelangan kaki, kira, yang dijepit di bahu dan diikatkan di pinggang. Kira dipadukan dengan blus lengan panjang, toego, yang dikenakan di bawah lapisan luar. Kedudukan dan kelas sosial menentukan tekstur, warna, dan dekorasi yang menghiasi pakaian.
Selendang dan syal juga penanda kedudukan sosial, karena secara tradisional Bhutan adalah masyarakat feodal. Anting-anting dikenakan oleh wanita. Yang menjadi perdebatan, kini hukum Bhutan mengizinkan pakaian ini buat semua warganya. Nasi, dan lebih banyak lagi jagung, adalah makanan pokok negeri itu. Makanan di perbukitan kaya akan protein karena konsumsi daging, khususnya unggas, yak and daging sapi. Sup daging, nasi, dan sayuran yang dikeringkan yang dibumbui dengan cabai dan keju adalah makanan favorit selama musim dingin. Makanan susu, khususnya mentega dan keju dari yak dan sapi, juga terkenal, dan memang hampir semua susu diubah menjadi mentega dan keju. Minuman terkenal termasuk teh mentega, teh, anggur nasi yang dimasak dan bir. Bhutan adalah satu-satunya negara di dunia yang telah melarang rokoq dan penjualan tembakau.
Ekonomi Bhutan
Meski menjadi salah satu yang terkecil di dunia, ekonomi Bhutan telah berkembang pesat sekitar 8% pada 2005 dan 14% pada 2006. Per Maret 2006, pendapatan per kapita Bhutan adalah US$1.321 yang membuatnya tertinggi di Asia Selatan. Standar hidup Bhutan berkembang dan merupakan salah satu yang terbaik di Asia Selatan. Ekonomi Bhutan adalah salah satu yang terkecil dan kurang berkembang di dunia, yang berbasispertanian, kehutanan, dan penjualan PLTA ke India. Pertanian menyediakan mata pencaharian buat lebih dari 80% penduduk. Praktek agraria sebagian besar terdiri atas pertanian subsisten danpeternakan hewan. Kerajinan tangan, khususnya menjahit dan produksi seni keagamaan untuk altar rumah merupakan industri kecil milik rakyat dan sumber sekian pendapatan.
Sektor industri amat minim, produksinya termasuk jenis industri rakyat. Sebagian besar proyek pembangunan, seperti konstruksi jalan, brsandar pada buruh kontrak India. Produk pertanian antara lain beras, lombok, produk dari dairy (yak), soba, gerst, panenan akar, apel, dan pohon jeruk di ketinggian rendah. Industri lain seperti semen, produksi kayu, buah-buahan yang diproses, MiRas, dan kalsium karbida.
Ekspor Bhutan, khususnya listrik, kapulaga, gips, kayu, kerajinan tangan, semen, buah, batu mulia dan rempah-rempah. Barang utama yang diimpor termasuk bahan bakar dan minyak pelumas, gabah, mesin, kendaraan, pabrik, dan nasi.
Mitra ekspor utama Bhutan adalah India, terhitung sekitar 87,9% barang ekspornya. Bangladesh (4,6%) dan Philipina (2%) ialah mitra ekspor terpentingnya setelah India. Karena perbatasannya dengan Tibet ditutup, perdagangan antara Bhutan dan RRC hampir tiada. Mitra impor Bhutan adalah India (71,3%), Jepang (7,8%) dan Austria (3%).
Nepal
Nepal, terletak di Himalaya, adalah sebuah negara di Asia Selatan yang berbatasan dengan Republik Rakyat Cina (Daerah Otonomi Tibet) di sebelah utara dan India di barat, timur, dan selatan. Meskipun luas wilayahnya kecil, negara memiliki delapan dari sepuluh puncak tertinggi dunia, termasuk Gunung Everest dekat perbatasan Tiongkok. Hingga tahun 2006 Nepal merupakan satu-satunya kerajaan Hindu di dunia. Pada tahun 2006 parlemen Nepal menyatakan Nepal diubah menjadi negara sekuler. Pada 28 Mei 2008, Nepal mengganti sistem pemerintahannya dari kerajaan yang sudah bertahan selama 250 tahun menjadi republik sehingga secara resmi nama "Kerajaan Nepal" pun berubah menjadi "Republik Nepal". Nepal terbagi menjadi 14 zona dan 75 distrik yang dikelompokkan menjadi lima zona pengembangan. Setiap distrik dikepalai oleh kepala distrik bertanggung jawab untuk menjaga hukum dan ketertiban serta mengkoordinasi kerja dinas-dinas pemerintah.
Ekonomi Nepal
Nepal, di bawah perjanjian perdagangan bilateral dengan India, di masa lalu telah diberikan bebas bea masuk atau preferensial. Namun, India-Nepal terbaru Perjanjian Perdagangan, ditandatangani Maret 2002, sementara itu masih terus mengizinkan Nepal manufaktur untuk memasuki pasar India pada dasar non-timbal balik, preferensial atau tugas-bebas, dengan aturan asal kurang membatasi dari internasional norma (produsen Nepal dapat memiliki hingga 70% konten asing bukan sebuah norma internasional kurang dari 50%), India ditempatkan kuota pada empat impor sensitif: lemak nabati, benang akrilik, produk tembaga, dan oksida besi, semua pada volume rendah dari Nepal baru-baru ini ekspor ke India.
Pada tahun 1995, Nepal bergabung dengan tujuh anggota Asosiasi Kerjasama Regional Asia Selatan (SAARC), dan telah meratifikasi Asia Selatan SAARC Preferential Trading Arrangement (SAPTA). Dalam SAPTA, anggota telah sepakat untuk sekitar 5000 pengurangan tarif di antara dua atau lebih anggota. Namun, rencana untuk membentuk kawasan perdagangan bebas dengan 2002 telah tertunda. Nepal telah diterapkan untuk aksesi ke Organisasi Perdagangan Dunia dan menyerahkan memorandum yang diperlukan pada rezim perdagangan luar negeri pada bulan Juni 1998. Pertemuan pertama Partai Kerja pada bulan Mei 2000 dan negosiasi akses pasar dimulai pada bulan September 2000. Pertemuan kedua Partai Kerja diadakan pada bulan September 2002, tetapi harapan untuk aksesi ke WTO pada akhir tahun 2002 belum terealisasi.
Penyelundupan substansial melintasi perbatasan India, terutama pada barang-barang kayu, tenaga kerja, peralatan konstruksi, mata uang dan senjata. Penyelundupan emas dianggap sangat besar. Catatan resmi menunjukkan impor besar dari emas, tetapi ekspor sedikit emas, meskipun diketahui bahwa sebagian besar impor emas ini ditujukan untuk pasar India. upaya terbaru untuk memerangi penyelundupan tampaknya memiliki setidaknya berubah mode dominan dari laki-laki mengemudi truk dan bus untuk individu, banyak wanita dan anak-anak, mengemudi sepeda.
Undang-undang Bea Cukai tahun 1997 berusaha untuk menyederhanakan prosedur adat, tetapi sudah ada keluhan gigih tentang kesenjangan antara kebijakan dan praktek, khususnya dalam hal penundaan dan penilaian sewenang-wenang. Di bawah program reformasi ekonomi untuk Tahun Anggaran 2002/03, pemerintah telah mengumumkan niat untuk memperkenalkan audit pasca-izin sebagai alat untuk mengurangi keluhan tentang evaluasi pabean.
Bea dan tugas merupakan sumber prinsip dari pendapatan dalam negeri. Impor tarif umumnya dinilai secara ad valorem, dengan tugas berkisar dari 0% sampai 140%. Sebagian besar produk primer, termasuk hewan hidup dan ikan, termasuk bebas bea. Mesin dan barang yang berhubungan dengan kebutuhan dasar dikenakan biaya 5%. Tugas impor pertanian yang tetap pada tahun 2003 sebesar 10%. Rokok dan minuman beralkohol dikenakan biaya sebesar 100%, meskipun minuman beralkohol dengan lebih dari 60% alkohol dilarang sama sekali. impor dilarang lainnya termasuk obat-obatan narkotika dan daging sapi dan produk daging sapi.
Produk yang dapat diimpor hanya di bawah lisensi khusus meliputi senjata, amunisi, dan bahan peledak, dan peralatan komunikasi, termasuk komputer, TV, VCR, dan-talkie talkie. logam berharga dan perhiasan dilarang kecuali dalam peraturan tas dan bagasi. Menurut Bank Dunia, Nepal tarif pajak tingkat rata-rata pada tahun 2000, data terbaru yang tersedia, adalah 17,7%. Rata-rata ini mungkin meningkat pada tahun 2001 dan 2002 karena "biaya tambahan keamanan" dikenakan pada impor paling tidak ada biaya khusus dinilai atas barang dengan tingkat tarif kurang dari 2,5%. Untuk barang dengan tugas yang dibebankan sampai 5%, biaya tambahan itu 1%, dan untuk semua orang dengan tugas di atas 5%, biaya tambahan adalah sebesar 3%.
Biaya layanan ekspor 0,5% dan ada tugas ekspor sayuran dan barang-barang plastik dari 2 sampai 10%. Dilarang ekspor termasuk artefak arkeologi dan agama; satwa liar terkendali; narkotika, senjata, amunisi dan bahan peledak; bahan baku industri, bahan baku impor, bagian dan barang modal, dan kayu dan log. Sejak 1960, menurut prosedur pengembalian tugas (DRP), India telah dikembalikan ke Nepal tugas cukai dikenakan pada ekspor ke Nepal. Barang impor dari India diberikan potongan penerapan ad valorem sebesar 10% pada tingkat tarif hingga 40% dan 7% dari harga di atas 40%.
Maladewa
Maladewa adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol di Samudra Hindia. Maladewa terletak di sebelah selatan-barat daya India, sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka. Negara ini memiliki 26 atol yang terbagi menjadi 20 atol administratif dan 1 kota. Malé, ibu kota Maladewa, adalah salah satu pulau terpadat di dunia dengan lebih dari 80.000 orang tinggal dalam 2 kilometer persegi. Tsunami menggenangi beberapa bagian dari pulau dan merusak dinding laut penahan gelombang (sea wall), bangunan, dan kendaraan yang parkir di jalan. Gugusan pulau di Maladewa selain kecil-kecil, juga dangkal dengan hamparan pasir di pantainya dominan putih, sehingga flora dan fauna maupun terumbu karang sekitar pantainya tampak terlihat cukup jelas.
Ekonomi Maladewa
Maladewa tidaklah sesubur dan sekaya dengan negara Indonesia namun karena potensi yang cukup jelas tersebut kemudian pengembangan sebagai kawasan wisata bahari dimulai sekitar tahun 1971-an, dengan dibuat `master plan` dengan sistem sewa. Investor menyewa dan boleh membangun fasilitas wisata di atas lautan sekitarnya, sementara daratannya yang mungil untuk fasilitas penunjang.
Pulau disewa tersebut umumnya tidak berpenghuni dan yang telah dibangun fasilitas wisata sebanyak 86 pulau. Menurut sebuah surat kabar dalam situs internet http//www.gatra.com menjelaskan bahwa:"Penghasilan negara kecil ini (devisa) setiap tahun sekitar 600 juta dolar AS, 70 persen merupakan peran pariwisata bahari ini secara langsung maupun tidak langsung, devisa dari kehadiran sekitar 600 ribu wisatawan yang didominasi oleh asing setiap tahun tersebut, untuk ukuran negara kecil seperti Maladewa nominalnya tergolong cukup besar”.
Kira-kira 3 jam setelah gempa bumi 26 Desember 2004, dilaporkan gelombang setinggi 1-3 meter menyapu Maladewa. Tsunami menyebabkan naiknya air secara cepat melewati terumbu-terumbu dan kepulauan, bukan merupakan gelombang besar seperti yang terjadi di Thailand dan Sumatera.. Kekuatan gelombang dan banjir menyebabkan kerusakan pada pulau berpenghuni ini, 80% dari 25 atol di Maladewa terletak hanya 1 meter di atas permukaan laut.. Kurang lebih 69 dari 199 pulau berpenghuni mengalami kerusakan di sana-sini, sementara hampir sepertiga dari 300.000 penduduk kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, atau infrastruktur lokal lainnya. Kerugian total diperkirakan berkisar antara US$ 480 – 1.000 juta; nilai perkiraan berdasarkan catatan kerusakan pada infrastruktur, armada perikanan, harta pribadi, pariwisata, dan sedikit kerugian pada pertanian yang berarti besar bagi produksi lokal. Lebih dari 50% pendapatan kotor Maladewa berasal dari industri pariwisata terumbu karang dan kepulauan, dan 12% berasal dari perikanan karang. Terdapat keprihatinan bahwa tsunami semakin memperparah kondisi terumbu karang yang telah menurun akibat adanya fenomena pemutihan karang di tahun 1998.
Tsunami telah menghancurkan masyarakat Maladewa yang keseluruhannya merupakan masyarakat pesisir. Banjir telah menyebabkan padamnya listrik, gangguan pasokan air bersih, kerusakan pada pelabuhan dan dermaga, erosi daerah pesisir, dan penetrasi air laut ke dalam tanah yang menyebabkan hancurnya pertanian.
Gelombang tsunami juga menyebabkan rusaknya sistem pembuangan yang mengarah pada kontaminasi cadangan air tanah, pasir dan laut di sekeliling kepulauan. Terumbu karang menjadi rusak akibat terkena hantaman puing infrastruktur yang tersapu ke laut. Kebanyakan masalah-masalah ini telah ada sebelum tsunami. Namun tsunami telah memaksakan adanya kebutuhan untuk menyelesaikan masalah yang berkenaan dengan pemanfaatan terumbu karang secara tak berkelanjutan dan lemahnya pengelolaan daerah pesisir. Tsunami juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan adanya system peringatan dini yang efektif dan rencana penanggulangan bencana yang proaktif. Pariwisata sangat bergantung pada kesehatan terumbu karang, sehingga beberapa hotel telah membantu pemerintah dalam membangun dan mengelola daerah perlindungan laut (MPA) untuk konservasi terumbu karang.
Sejumlah besar usaha perikanan beroperasi di daerah terumbu karang: ikan segar seperti tuna ditangkap di laguna terumbu karang sedangkan ikan karang diambil untuk dikonsumsi turis dan diekspor, terutama kerapu untuk perdagangan ikan segar. Selain itu, teripang, hiu (bagian siripnya), dan ikan hias diambil untuk diekspor. Kegiatan-kegiatan ini memberikan dampak nyata dimana jumlah kerapu dan hiu semakin berkurang, yang berpotensi menyebabkan menurunnya kesehatan terumbu karang dalam jangka waktu yang lama. Walaupun keragaman hayati belum pernah diteliti secara rinci, tercatat lebih dari 250 jenis karang keras dan lebih dari 1.200 jenis biota telah ditemukan, membuat Maladewa termasuk ke dalam salah satu daerah laut terkaya di kawasannya.
Hubungan Kerjasama Bhutan, Maladewa dan Nepal
Hubungan kerjasama Bhutan, maladewa dan Nepal dapat kita lihat dengan adanya perjanjian multilateral yang dilakukan oleh ketiga Negara dan diharapkan dapat mengeksplorasi kemungkinan kesempatan untuk meningkatkan perdagangan bilateral, dimana pembicaraan perdagangan akan mencakup isu-isu mengenai daftar produk ekspor dari ketiga negara. The two parties will also discuss on the modality for the formal trade treaty that could be later on developed as various preferential treatment required for the bilateral trade, according to Surya Prasad Silwal, Joint Secretary at the Ministry of Commerce and Supplies in Nepal.Kedua pihak juga akan membahas tentang modalitas untuk perjanjian perdagangan formal yang dapat kemudian dikembangkan menjadi berbagai perlakuan istimewa yang dibutuhkan untuk perdagangan bilateral. Selain itu isu-isu mengenai rute perdagangan dan prosedur bisnis juga akan dibahas dalam pertemuan di bulan November. Meskipun selama ini perdagangan yang dilakukan antara Bhutan dan Nepal hanyalah sebuah perdagangan informal. Untuk itulah dilakukannya perdangan formal yang merupakan prasyarat karena akan menguntungkan kedua negara, untuk mengurangi tarif maslah ekspor dan impor.
Although trading practices are prevalent between Bhutan and Nepal, it has no concession since it is an informal trade relation.Selain itu, spenandatangan SAFTA (Asia Selatan Perjanjian Perdagangan Bebas), dimana kedua negara ini bisa melakukan perdagangan di bawah SAFTA. “So far we have not had a formal trade with Nepal, but we can tSejauh ini Bhutan's export to Nepal during 2008-09 was around Nu 300 billion whereas Bhutan's import from Nepal was at Nu 200 million, according to reports. Bhutan ekspor ke Nepal selama 2008-2009 sekitar 300 miliar Rupiah sedangkan impor Bhutan dari Nepal berada di 200 juta, menurut laporan. Bhutan and Nepal also signed an agreement in 2004 to increase the number of flights between Paro and Kathmandu from twice a week to seven flights a weeBhutan dan Nepal juga menandatangani perjanjian pada tahun 2004 untuk meningkatkan jumlah penerbangan antara Paro dan Kathmandu dari dua kali seminggu untuk tujuh penerbangan seminggu.
Kerja sama Ekonomi juga dibangun dalam bentuk organisasi Asosiasi Asia Selatan yaitu Kerjasama Regional (SAARC). SAARC adalah organisasi Negara-negara Asia Selatan yang bergerak dalam bidang ekonomi, SAARC didirikan pada tahun 1985 dan didedikasikan untuk, teknologi, sosial, dan budaya pembangunan ekonomi kolektif menekankan kemandirian. Its seven founding members are Bangladesh , Bhutan , India , the Maldives , Nepal , Pakistan , and Sri Lanka . Afghanistan joined the organization in 2007. anggota pendiri adalah Bangladesh , Bhutan , India , Maladewa , Nepal , Pakistan , dan Sri Lanka . sedangkan Afghanistan bergabung dengan organisasi tersebut pada tahun 2007. Meetings of heads of state are usually scheduled annually; meetings of foreign secretaries, twice annually. Pertemuan kepala negara biasanya dijadwalkan setiap tahun; rapat sekretaris asing, dua kali per tahun. Headquarters are in Kathmandu, Nepal. Markas berada di Kathmandu, Nepal.
The objectives of the Association as defined in the Charter are: [ 2 ] Tujuan dari SAARC sebagaimana didefinisikan dalam Piagam adalah:
- to promote the welfare of the people of South Asia and to improve their quality of life;meningkatkan kesejahteraan masyarakat Asia Selatan dan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka;
- to accelerate economic growth, social progress and cultural development in the region and to provide all individuals the opportunity to live in dignity and to realize their full potential;mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan pembangunan budaya di kawasan dan untuk menyediakan semua individu kesempatan untuk hidup secara terhormat dan untuk menyadari mereka penuh potensial;
- to promote and strengthen collective self-reliance among the countries of South Asia;mempromosikan dan memperkuat kemandirian kolektif antara negara-negara Asia Selatan;
- to contribute to mutual trust, understanding and appreciation of one another's problems;memberikan kontribusi untuk saling kepercayaan, saling pengertian dan apresiasi terhadap satu sama lain masalah
- to promote active collaboration and mutual assistance in the economic, social, cultural, technical and scientific fields;meningkatkan kerjasama aktif dan saling membantu di bidang ekonomi, sosial, budaya, teknis dan ilmiah
- to strengthen cooperation with other developing countriesmemperkuat kerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya;
- to strengthen cooperation among themselves in international forums on matters of common interest; andmemperkuat kerjasama di antara mereka sendiri di forum internasional tentang hal-hal yang menjadi kepentingan bersama
- to cooperate with international and regional organisations with similar aims and purposes.bekerja sama dengan organisasi internasional dan regional dengan tujuan yang sama dan tujuan.
Kesimpulan
Sejauh ini hubungan ekonomi antara Negara-negara kecil kawasan asia selatan hanya berlangsung secara non-formal dengan pihak swasta sebagai pelaku ekonomi yang utama, sampai dengan adanya pembentukan asosiasi ekonomi dan perdagangan di kawasan tersebut.
Pembentukan hubungan kerjasama melalui asosiasi merupakan langkah yang utama agar peran pemerintah sebagai pemegang kuasa ekonomi tertinggi dapat terwujud.
Kerja sama yang dibentuk melalui hubungan ekonomi negara-negara kecil Asia Selatan baik melalui SAFTA dan SAARC terbukti dapat meningkatkan perekonomian Negara-negara tersebut.
Peningkatan hubungan kerja sama juga dilakukan melalui perjanjian ekonomi bilateral antar Negara-negara kecil tersebut. Hubungan kerjasama antar Negara-negara kecil Asia Selatan yang bersifat bilateral, tanpa melalui forum seperti SAARC, dan SAFTA lebih terbuka, karena pengaruh India sebagai Negara Besar di Asia Selatan tidak terlalu berpengaruh. Hubungan kerja sama antara Negara-negara di Asia Selatan tidak pernah lepas dari politisasi India sebagai Negara dengan Ekonomi dan militer paling kuat di kawasan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar