Perang Dunia Pertama juga dinamakan PD I, Perang Besar, Perang Negara-Negara, dan Perang untuk Mengakhiri Semua Perang. PD I adalah sebuah konflik dunia yang berlangsung dari 1914 hingga 1918. Lebih dari 40 juta orang tewas, termasuk sekitar 20 juta kematian militer dan sipil. Hal ini tercatat sebagai perang terbesar pertama dimuka Bumi, karena peperangan ini diikuti oleh banyak Negara, terlebih perang ini memakan korban warga sipil yang tidak sedikit. Perang ini juga mencatat kejahatan perang terbesar pertama didunia sebelum Perang Dunia II (PD II). Perang Dunia I menjadi terkenal dengan peperangan parit perlindungannya, di mana sejumlah besar tentara dibatasi geraknya di parit-parit perlindungan dan hanya bisa bergerak sedikit karena pertahanan yang ketat. Ini terjadi khususnya terhadap Front Barat. Lebih dari 9 juta jiwa meninggal di medan perang, dan hampir sebanyak itu juga jumlah warga sipil yang meninggal akibat kekurangan makanan, kelaparan, pembunuhan massal, dan terlibat secara tak sengaja dalam suatu pertempuran.
Penyebab Perang Dunia I (PD I) Perang ini dimulai setelah Pangeran Franz Ferdinand dari Austria - Hongaria (sekarang Austria) dibunuh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Princip di Sarajevo. Tidak pernah terjadi sebelumnya konflik sebesar ini, baik dari jumlah tentara yang dikerahkan dan dilibatkan, maupun jumlah korbannya. Senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman massal warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak dari pembunuhan massal berskala besar pertama abad ini berlangsung saat perang ini. Selain itu, Perang Dunia Pertama atau PD I juga disebabkan Persaingan merebut daerah sumber bahan baku (Sumber Daya Alam), penanaman modal, dan daerah pemasaran. Juga munculnya Munculnya persekutuan / Blok persaingan politik antar negara-negara Eropa menjadi salah satu pemicu utama pecahnya Perang Dunia I (PD I). Anggota blok antara lain :
Triple Alliance : Jerman, Austria, Italia
Triple Entente : Inggris, Perancis, Uni SovietBerikut nama Negara yang terlibat langsung dalam Perang Dunia Pertama (PD I)Blok Sentral : Jerman, Turki, Bulgaria, Austria-Hongaria Blok Sekutu : Perancis, Rusia, Inggris, Italia, Amerika Serikat, Serbia, Belgia, Rumania, Yunani, Portugal, Jepang, Kanada, Selandia Baru, Australia, Arab, dll. (Semua anggota berjumlah 23 negara)
Perang Dunia II (1939 – 1945) Perang Dunia Kedua (PD II) secara resmi mulai berkecamuk pada tanggal 1 September 1939 sampai tanggal 2 September 1945. Meskipun demikian ada yang berpendapat bahwa perang sebenarnya sudah dimulai lebih awal, yaitu pada tanggal 1 Maret 1937 ketika Jepang menduduki Manchuria. Sampai saat ini, perang ini adalah perang yang paling dahsyat pernah terjadi di muka bumi. Kurang lebih 50.000.000 (lima puluh juta) orang tewas dalam konflik ini. Hal ini mencatat bahwa Perang Dunia II adalah pembataian masal terbesar di dunia sepanjang sejarah, dan lebih dari 50% korban adalah warga sipil.
Penyebab Perang Dunia Kedua (PD II) Dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai pada saat pendudukan Jerman di Polandia pada tanggal 1 September 1939, yang memicu pergerakan militer nari negara-negara Aliansi (Alliance Force Nation) seperti Uni Soviet, China, dan Yugoslavia. Perang Dunia II berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat. Secara resmi PD II berakhir ketika Jepang menandatangani dokumen Japanese Instrument of Surrender di atas kapal USS Missouri pada tanggal 2 September 1945, 6 tahun setelah perang dimulai. Perang Dunia II berkecamuk di tiga benua tua; yaitu Afrika, Asia dan Eropa. Indonesia pun menjadi korban Perang Dunia II, walaupun secara tidak langsung, karena pada saat itu Republik Indonesia diduduki dan dijalankan oleh pemerintahan Jepang.Perang Dunia II juga memberikan ruang kepada Indonesia untuk menyatakan kemerdekaannya, setelah Jepang menyerah kepada Amerika pada tahun 1945.
Perang Dingin (1947 – 1991) Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut (Uni Soviet dan Amerika Serikat).Penyebab Perang Dingin Perang Dingin disebabkan oleh Perbedaan Pandangan Ideologi tentang bagaimana cara membangun kembali Eropa, Asia dan Afrika pasca perang Dunia II. Perang Dingin semakin jelas terlihat pada saat Amerika membentuk Aliansi dengan Negara-Negara Eropa Barat, Timur Tengah dan Asia Tenggara, yang menyebabkan semakin Panasnya persaingan antar kedua negara adikuasa. Meskipun kedua negara adikuasa itu tak pernah bertempur secara langsung, namun konflik di antara keduanya secara tak langsung telah menyebabkan berbagai perang lokal seperti Perang Korea, invasi Soviet terhadap Hungaria dan Cekoslovakia dan Perang Vietnam. Hasil dari Perang Dingin termasuk (dari beberapa sudut pandang) kediktatoran di Yunani dan Amerika Selatan. Krisis Rudal Kuba juga adalah akibat dari Perang Dingin dan Krisis Timur Tengah juga telah menjadi lebih kompleks akibat Perang Dingin. Dampak lainnya adalah terbaginya Jerman menjadi dua bagian yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur yang dipisahkan oleh Tembok Berlin. Namun ada pula masa-masa di mana ketegangan dan persaingan di antara keduanya berkurang. Perang Dingin mulai berakhir di tahun 1980-an ketika Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev meluncurkan program reformasi, perestroika dan glasnost. Secara konstan, Uni Soviet kehilangan kekuatan dan kekuasaannya terhadap Eropa Timur dan akhirnya dibubarkan pada tahun 1991.
Penyebab Berakhirnya Perang DinginPerang Dingin berakhir karena: Sampai dengan tahun 1980, 11 % GNP dari Uni Soviet dibelanjakan untuk kepentingan militer. Uni Soviet mengalokasikan dana besar-besaran bagi negara yang berada dibawah kekuasaannya agar negara tersebut tidak lepas dari kendalinya. Pada Tahun 1980, harga minyak jatuh sehingga keadaan ekonomi Uni Soviet tidak stabil. Padahal serbelumnya Uni Soviet sangat tergantung dengan ekspor minyaknya sementara sejak 1980 minyak tidak mampu membiayai Perang Dingin, Selain itu Muncul krisis kepercayaan terhadap sistem komunisme, Dampaknya muncul pemikiran dari para cendekiawan yang memahami pandangan barat sehingga mendorong munculnya keinginan seperti warga negara di negara-negara non komunis. Dalam kondisi yang buruk Mikhail Gorbachev (11 Maret 1985) harus memimpin Uni Soviet dengan tugasnya yaitu memperbaiki perekonomian Uni Soviet yang semakin buruk. Pada 19 Agustus 1991, Gennadi Yanayev (pemimpin kelompok konserfatif) melancarkan kudeta terhadap Gorbachev tetapi upaya ini dapat digagalkan oleh Boris Yeltsin (pemimpin kelompok Radikal) sehingga Gorbachev dapat diselamatkan dan nama Yeltsin mulai melambung di pentas politik Uni Soviet. Yeltsin tidak mampu membendung gelora semangat Perestroika dan Glasnost, yaitu semangat dari berbagai negara yang berada dibawah Uni Soviat untuk memerdekakan diri, terbukti dengan banyaknya negara bagian Uni Soviet yang melepaskan diri dan menjadi negara merdeka sehingga Runtuhlah Uni Soviet. Uni Soviet mulai mengurangi kekuatan senjatanya di Eropa Timur seperti pada 1989 Uni Soviet menarik tentaranya dari Afghanistan. Akhirnya kekuasaan komunis mulai runtuh di negara-negara Eropa Timur dimana Jerman kembali bersatu.Secara resmi Uni Soviet dibubarkan pada 8 Desember 1991 ditandai dengan penurunan bendera Uni Soviet dan dikibarkan bendera Rusia. Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet yang lain mulai muncul sebagai negara yang merdeka. Runtuhnya kekuatan Uni Soviet di Eropa Timur mengakhiri Perang Dingin. Yang membuat Amerika Serikat sebagai satu-satunya Negara Adikuasa yang memegang kendali diberbagai bidang didunia pada waktu itu. Uni Soviet merupakan contoh keberhasilan dari ideologi Marxis-Leninis yang diaktualisasikan menjadi negara.
Penyebab Krisis Asia 1997 Krisis finansial Asia adalah krisis finansial yang dimulai pada Juli 1997 di Thailand, dan mempengaruhi mata uang, bursa saham, Penigkatan Harga Produksi dan jumlah pengangguran, penurunan daya konsumsi dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia, dan sebagian Negara di Daerah Regional Asia Timur, yang puncaknya menyebabkan jatuhnya perekonomian Asia diseluruh sektor atau bidang Perekonomian. Peristiwa ini juga sering disebut krisis moneter ("krismon") di Indonesia. Penyebab krisis Sampai 1996, Asia menarik hampir setengah dari aliran modal negara berkembang. Tetapi, Thailand, Indonesia dan Korea Selatan memiliki "current account deficit" dan perawatan kecepatan pertukaran pegged menyemangati peminjaman luar dan menyebabkan ke keterbukaan yang berlebihan dari resiko pertukaran valuta asing dalam sektor finansial dan perusahaan. Pelaku ekonomi telah memikirkan akibat di Daratan Tiongkok pada ekonomi nyata sebagai faktor penyumbang krisis. Dimulai kompetisi secara efektif dengan eksportir antara sesame Negara dikawasan Asia dan sekitarnya terutaman pada tahun 1990-an setelah penerapan reform orientas-eksport. Hal Yang paling penting, adalah mata uang Thailand dan Indonesia yang berhubungan erat dengan dollar, yang pada saat itu naik nilainya di era 1990-an. Importir Barat mencari pemroduksi yang lebih murah dan menemukannya di Tiongkok yang biayanya rendah dibanding dollar, Hal tersebut menyebabkan bertambah buruknya Perekonomian Asia, khususnya Negara Kawasan Asia Tenggara. Krisis Asia dimulai pada pertengahan 1997 dan mempengaruhi mata uang, pasar bursa dan harga aset beberapa ekonomi Asia Tenggara. Dimulai dari kejadian di Amerika Selatan, investor Barat kehilangan kepercayaan dalam keamanan di Asia Timur dan memulai menarik uangnya. Hampir seluruh investor kehilangan kepercayaan terhadap perdagangan dan perekonomian di Kawasan Asia, hanya sedikit investor yang mau bertahan, itupun adalah para investor dengan jumlah investasi yang kecil. Krisis kepercayaan tersebut membuat Perekonomian dikawasan Asia menjadi lemah, dan tidak terkendali. Hampir seluruh nilai tukar mata uang Negara-Negara di kawasan Asia anjlok sampai dengan 400%. Menurunya Kredibilitas Ekonomi dikawasan Asia tersebut merupakan penyebab utama Krisis Asia tahun 1997 selain penataan Perekonomian yang masih sangat kurang.
Great Depression Depresi Besar atau zaman malaise adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis, di seluruh dunia yang mulai terjadi pada tahun 1929. Depresi dimulai dengan peristiwa Selasa Kelam (Black Thursday), yaitu peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929. Depresi ini menghancurkan ekonomi baik negara industri maupun negara berkembang. Volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan.Pengaruh Great Depression Kota-kota besar di seluruh dunia terpukul, terutama kota yang pendapatannya bergantung pada industri berat. Kegiatan pembangunan gedung-gedung terhenti. Wilayah pedesaan yang hidup dari hasil pertanian juga tak luput terkena dampaknya karena harga produk pertanian turun 40% hingga 60%. Begitu pula dengan sektor primer lain seperti pertambangan dan perhutanan.Penyebab Great Depression Produksi masal harus dibarengi dengan konsumsi masal, yang kemudian akan berdampak pada pendistribusian kekayaan, yakni kekayaan yang dihasilkan dari produksi, dan bukannya kekayaan eksisting untuk menyediakan masyarakat kekuatan untuk membeli (purchasing power) barang dan jasa yang bisa disediakan oleh permesinan ekonomi bangsa yang bersangkutan Pendistribusian tersebut membuat sebuah pompa besar di tahun 1929-1930 yang menyedot kekayaan tersebut ke tangan segelintir orang. Hal ini menyebabkan capital (pengeluaran/utang) yang menumpuk di tangan konsumen. Namun dengan menarik daya beli dari masyarakat kebanyakan, para penumpuk kekayaan ini malah mengurangi kekuatan untuk membeli produk yang mereka buat sendiri sehingga mengurangi nilai investasi di pabrik-pabrik baru. Akhirnya, Sebagai akibat dari para konsumen atau masyarakat terus menumpuk pengeluaran dan tidak dapat membayar kembali pinjaman atas pengeluaran mereka adalah pada saat konsumen mengurangi konsumsi, hal tersebut juga menyebabkan banyak perusahaan industri bersaing untuk mendapatkan kembali konsumen mereka, tetapi karena langkah yang dilakukan tidak secara teratur tanpa ada kesepakatan antara badan industri dan masyarakat sebagai konsumen. Hal tersebut mengakibatkan banyak rumah industri tutup dan menyatakan diri bangkrut, penurunan pendapatan perseorangan dan pajak, dan juga mengakibatkan proses transaksi serta proses produksi yang jauh menurun serta volume perdagangan yang sangat kecil. Turunnya daya beli konsumen, meningkatnya pengangguran yang disebabkan oleh banyaknya perusahaan industri di berbagai bidang yang bangkrut, menumpuknya capital pengeluaran yang menambah jumlah utang menjadikan dunia perekonomian jatuh secara drastis. Antara tahun 1939 dan 1944, banyak orang mendapat pekerjaan kembali karena Perang Dunia II, dan Depresi Besarpun berakhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar