PENDAHULUAN
Pengertian Diplomasi Diplomasi berasal dari bahasa Latin artinya sebuah surat yang berikan kepada utusan kerajaan dengan demikian yang memegang surat tersebut adalah yang berhak berbicara atas nama kerajaan dan diberikan hak-hak istimewa sebagaimana seorang utusan. Wujud surat tersebut berbentuk dua buah kepingan logam yang berbentuk setengah lingkaran yang bagian setengahnya diberi tali pengikat sehingga dua buah surat logam tersebut dapat terlipat dan apabila dibentang berbentuk lingkaran penuh. Surat-surat logam tersebut pada zaman kerajaan Romawi dibuat rangkap dua, yang pertama diberikan kepada negara-negara yang langsung dibwah kekuasaan Romawi atau negara yang mempunyai mitra dan hubungan langsung dengan Romawi, dan yang satunya lagi tersimpan sebagai arsip di Romawi. Sehingga jika ada hubungan kenegaraan Romawi dengan mudah dapat mengetahui rekan yang mana sebagai hunbungan diplomatik dan yang tidak ada hubungan diplomatik. Romawi dalam hal surat-menyurat diplomatik ini telaten dalam menyimpan dan administrasinya.
Menurut Konvensi Wina yang dikutip oleh David Ziegler 1989, Seorang Diplomasi adalah sebagai utusan yang mewakili negaranya. Dalam arti perkataan dan perbuatannya serta segala keputusan yang ia ambil adalah mencerminkan negaranya. Artinya dengan kata lain dia sebagai seorang diplomat mengerti betul kepentingan negaranya, pemikiran pemimpinnya, dan selalu berhubungan langsung dengan negara asalnya.Selain itu Diplomat tersebut tidak saja melayani hubungan negara dan pemerintahan tetapi juga meluas sampai pada kelompok dan masyarakat tempat Diplomat itu berada atau diutus.
Diplomasi adalah seni dan praktek bernegosiasi oleh seseorang (disebut diplomat) yang biasanya mewakili sebuah negara atau organisasi. Kata diplomasi sendiri biasanya langsung terkait dengan diplomasi internasional yang biasanya mengurus berbagai hal seperti budaya, ekonomi, dan perdagangan. Biasanya, orang menganggap diplomasi sebagai cara mendapatkan keuntungan dengan kata-kata yang halus.
Perkembangan Sejarah Diplomasi
Diplomasi telah ada dan digunakan pada zaman sebelum masehi, Sejarah Diplomasi sangat panjang, biasanya diplomasi digunakan oleh negara-negara kota maupun kerajaan dalam mempertahankan atau memperebutkan wilayah dengan cara tanpa perang, mulai dari zaman atau peradaban mesir kuno, romawi, yunani maupun india kuno.
Zaman, 3.500 SM, di Mesir diyakini sudah ada korespondensi diplomatik dengan ditemukannya “letter from Amara” yang berisi daftar barang-barang yang dikirimkan kepada seseorang yang diyakini sebagai pejabat. Hal ini menandakan bahwa praktek diplomasi sudah ada jauh sebelum jaman Yunani yang dijadikan akar peradaban Eropa. Diplomasi terus berkembang pesat sesuai dengan perkembangan Zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Perkembangan yang jelas terlihat adalah, diplomasi pada masa atau zaman kuno digunakan sebagai media untuk berperang, sedangkan pada masa sekarang diplomasi dikenal dengan tindakan tanpa militerisme.
Bentuk-bentuk Diplomasi Ancient Diplomacy
Diplomasi Kuno. Diplomasi yang dijalankan oleh negara-negara yang ada dan berdiri pada masa sebelum Masehi (BC/Before Christ, sebelum Kristus lahir) seperti misalnya India Kuno, China Kuno, dan Mesir Kuno. Sayangnya banyak informasi yang belum tergali dari praktek diplomasi pada jaman kuno ini. Diplomasi kuno umumnya mengambil bentuk diplomasi matrimonial (diplomasi melalui perkawinan) seperti dijalankan oleh Nabi Sulaiman yang menikahi Ratu Balqis, atau yang dilakukan oleh Ratu Cleopatra dari Mesir dengan menikahi Jenderal Romawi Anthony untuk mencegah Mesir diserang Roma. Dalam epos Mahabharata India Kuno misalnya ada cerita tentang Kresna Duta, sebuah epos tentang diutusnya Prabu Kresna dalam sebuah misi Pandawa meminta kembali negara yang dikuasai Kurawa. Kautilyapada abad ke-4 sebelum Masehi juga sudah menulis Arthasastra yang berisi tentang hubungan internasional dan diplomasi. Kita juga yakin bahwa di Cina tentunya sudah berkembang praktek diplomasi mengingat Cina juga mempunyai peradaban yang sangat tua, termasuk konsep “the Middle Kingdom.” Berkait dengan definisi modern tentang diplomasi, diplomasi kuno merupakan upaya untuk mengatur Aristocratic Diplomacy
Sebuah pengertian bahwa diplomasi adalah dunianya kaum aristokrat alias kaum bangsawan. Salah satu sebabnya adalah pada masa lalu syarat untuk menjadi diplomat sangat berat dan umumnya susah dipenuhi oleh mereka yang non-bangsawan alias rakyat biasa. Misalnya syarat untuk mampu berunding, menguasai pengetahuan yang cukup tentang sejarah dan budaya bangsa lain, adalah syarat-syarat yang memerlukan kecakapan khusus dan atau pendidikan tinggi. Cashbox Diplomacy
Arti harfiahnya adalah diplomasi kotak uang. Dalam definisi KM Panikkar, diplomasi terutama digunakan untuk “forwarding one’s interest in relations to other states” (mengedepankan kepentingan nasional sebuah negara dalam hubungan internasional). Dalam mengedepankan kepentingan nasionalnya, sebuah negara akan memilih cara-cara diplomatis lebih dulu, khususnya menjalankan pengaruh dengan berbagai sarana. Diplomasi lalu menjadi “a means by which a state directly influences another.” Sebagai sebuah sarana atau alat, maka diplomasi bisa memanfaatkan instrumen apa saja, apakah itu uang, minyak, bahkan sampai pada militer. Dengan menggunakan uang, minyak, atau apapun sebagai alat, sebuah negara bisa secara langsung mempengaruhi negara lain untuk menjalankan keinginannya. Amerika Serikat (AS) misalnya, terkenal sebagai negara yang menjalankan diplomasi dengan menggunakan uang dan dikenal dengan istilah dollar diplomacy. Coercive Diplomacy
Cara-cara paksaan yang dilakukan oleh satu negara A kepada negara B agar negara B tunduk pada apa yang diinginkan negara A. Cara-cara pemaksaan itu umumnya menggunakan sanksi perdagangan, embargo untuk bisnis atau investasi dengan jumlah tertentu, boikot, bahkan sampai pada larangan bepergian bagi pejabat tertentu,. Coercive diplomacy yang dilakukan Uni Soviet pada masa Perang Dingin lebih vulgar dalam hal unjuk kekuatan.
Bentuk-bentuk diplomasi lainnya Cultural Diplomacy Deceit Diplomacy Democratic Diplomacy Diplomacy by other means Diplomacy by Sex PEMBAHASAN Sejarah perang dingin
Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut (Uni Soviet dan Amerika Serikat).
Perang Dingin disebabkan oleh Perbedaan Pandangan Ideologi tentang bagaimana cara membangun kembali Eropa, Asia dan Afrika pasca perang Dunia II. Perang Dingin semakin jelas terlihat pada saat Amerika membentuk Aliansi dengan Negara-Negara Eropa Barat, Timur Tengah dan Asia Tenggara, yang menyebabkan semakin Panasnya persaingan antar kedua negara adikuasa.
Meskipun kedua negara adikuasa itu tak pernah bertempur secara langsung, namun konflik di antara keduanya secara tak langsung telah menyebabkan berbagai perang lokal seperti Perang Korea, invasi Soviet terhadap Hungaria dan Cekoslovakia dan Perang Vietnam.
Perang Dingin mulai berakhir di tahun 1980-an ketika Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev meluncurkan program reformasi, perestroika dan glasnost. Secara konstan, Uni Soviet kehilangan kekuatan dan kekuasaannya terhadap Eropa Timur dan akhirnya dibubarkan pada tahun 1991. Diplomasi pada saat perang dingin
Paradigma Perang Dingin 1949-1989 terbagi pada beberapa tahap perkembangan sesuai dengan realitas hubungan antar bangsa. secara politis Perang Dingin terbagi atas tahap 1947-1963 dengan beberapa puncak persitiwa seperti Blokade Berlin 1949, Perang Korea 1950-1953, Krisis Kuba 1962 dan Perjanjian Proliferasi Nuklir 1963.Selanjutnya selama Perang Vietnam 1965-1975, paradigma Perang Dingin terbatas pada persaingan berkelanjutan antara AS dan Uni Soviet di beberapa kawasan strategis dunia.
Salah satu yang terpenting, terjadi dalam Perang Arab-Israel 1967-1973. Perundingan senjata strategis yang mulai dirintis dan dikukuhkan melalui Perjanjian SALT I juga menjadi salah satu ciri periode ini.Selama kurun waktu yang panjang itulah isu-isu seperti pertentangan ideologis, perebutan wilayah pengaruh, pembentukan blok militer, politik bantuan ekonomi yang dilatarbelakangi kepentingan ideologis, spionasi militer dan pembangunan kekuatan nuklir menjadi tema-tema penting.
Perebutan posisi hegemoni ekonomi dan politik ketimbang hegemoni kekuatan militer yang merupakan ciri baru perkembangan dunia pada saat perang dingin, mungkin saja akan dilengkapi kembali dengan kekuatan militer, dan hal ini tentu saja akan mengancam keamanan dan ketertiban dunia.
Diplomasi yang terjadi pada saat perang dingin lebih tepatnya mengarah pada hubungan kerjasama dibidang militer dan persenjataan, karena ketakutan akan terjadinya perang besar antara dua negara super power yang masing-masing memiliki sekutu. Sehingga tiap-tiap negara dunia beranggapan bahwa diplomasi yang tepat dan efisien dilakukan pada masa itu adalah diplomasi yang mengarah pada kerjasama militer. Diplomasi pasca perang dingin
Berakhirnya salah satu episode dalam hubungan antar bangsa berupa Perang Dingin, melahirkan realitas baru dalam perhatian negara besar dan negara yang bekas komunis. Isu-isu utama yang menjadi pilar hubungan internasionalpun mengalami pergeseran. Meskipun isu lama yang menyangkut keamanan nasional dan pertentangan masih tetap berlanjut namun tak dipungkiri adanya perhatian baru dalam tata hubungan antar negara dan antar bangsa.
Pasca perang dingin melhirkan pemikiran-pemikiran dan isu-isu baru dalam dunia internasional. Dunia tidak hanya bertitik pada ekonomi dan militer tetapi mulai adanya pembahasan yang bersifat non-militer dan dengan lingkup yang lebih luas. Seperti halnya masalah lingkungan, HAM, pangan, Energi, dan isu-isu lainnya yang punya dampak dan akibat secara global.
Pasca perang dingin juga mengubah cara berpikir dan paradigm negara-negara dunia tentang diplomasi, perubahan diplomasi yang terjadi bukan hanya pada masalah yang dibahas secara global, melainkan juga pada system dan pelaksanaannya.
Diplomasi pasca perang dingin tidak hanya mengandalakan peran diplomasi sebagai diplomat negara dalam urusan hubungan antar negara, tetapi juga dengan menggunakan aktor-aktor lain diluar pemerintahan, seperti halnya masyarakat, dengan melelui public diplomasi.
Berkembangnya tehknologi secara signifikan membuat perkembangan diplomasi dapat berjalan dengan lebih cepat dan berkembang dengan pesat, sehingga dapat mempermudah proses diplomasi tersebut. KESIMPULAN
Perbedaan diplomasi pada saat perang dingin dan pasca perang dingin
Perubahan lingkungan mempengaruhi hubungan antar bangsa. Jika pada masa Perang Dingin isu-isu ideologis dan militer sangat dominan. Hampir semua hubungan antar bangsa diterjemahkan kedalam konteks perang ideologi.Pada era pasca Perang Dingin, tema-tema ideologis menyurut. Sebagai gantinya muncul isu-isu seperti hak asasi manusia, politik-ekonomi dan demokratisasi, Lingkungan Hidup, Pangan, Perdagangan, Tekhnologi, Terorisme, Korupsi, Kesehatan, Energi, dan pendidikan sebagai salah satu indikator yang menentukan hubungan internasional
Pada zaman sekarang pengaruh negara besar sangat menentukan dari diplomasi yang dijalankan. Dengan berakhirnya perang dingin perngaruh-pengaruh kekuatan (power) mulai berkurang jika dibanding dengan pengaruh-pengaruh ketika zaman perang dingin berlangsung.
Dengan berubahnya situasi global, pola yang dulunya bipolar (Perimbangan Kekuatan) Menjadi satu hegemoni tunggal menyebabkan juga berubahnya Diplomasi dan Ruang Lingkupnya. Seperti sekarang untuk diplomasi tidak saja dilakukan oleh diplomat disatu negara, tetapi lebih banyak dengan utusan langsung, penggunaan Media massa, dan Media Informasi yang lebih luas.
Kebebasan universal lebih mendominasi dalam pola-pola interaksi menggantikan dialog-dialog antar negara. Pada saat perang dingin, Diplomasi sedikit Westphalia (Teratur menurut hukum seperti perjanjian Westphalia). Perjanjian yang mengatuh hubungan antar negara ketika masa sebelum perang dunia pertama, dimana negara-negara tunduk dan patuh pada satu aturan dan teratur menurut hukum internasional. Hal ini terjadi disebabkan oleh pengaruh kerajaan Romawi, yang mengatur semua negara dibawah kekuasaannya dan semua negara yang takluk kepadanya, dipaksa untuk tunduk pada satu aturan. Sedangkan pada pasca perang dingin, diplomasi lebih terbuka dan memiliki bentuk serta isu pembahasan yang baru dan lebih global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar